‘Ketika Mas Gagah Pergi’ Pembangkit Memori dan Inspirasi

30 Aug 2016

Jika ditanyakan buku apa yang begitu berkesan bagi saya ? maka tanpa ragu saya akan menjawab satu novel fenomenal dalam sejarah dan latar belakang yang membawa saya suka membaca dan menulis hingga saat ini. Buku yang masih terpajang tersebut menjadi pembangkit memori. Novel itu merupakan kumpulan cerpen yang di buat oleh penuli senior Bunda Helvy Tyana Rosa yang awalnya merupakan cerita bersambung di tabloid Annida.

Pertama kali diterbitkan dalam cetakan buku sekitar tahun 1997, novel yang diberi judul “Ketika Mas Gagah Pergi” pada nyatanya telah membawa inspirasi bagi banyak orang dan saat ini bahkan sudah terbit versi terbarunya.Menerima tawaran pinjaman seorang kawan dengan fisik buku yang sudah sangat usang sekali warnanya, saat itu masih cover lama yang tak disangka rupanya membawa saya pada keasyikan dalam setiap kata yang tereja.

Sumber gbr : www.HALBOOR.COM

Novelnya sendiri terdiri atas beberapa cerita dengan yang utama tentu saja yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” bercerita tentang Gita gadis manja dan tomboy yang memiliki seorang kakak laki-laki yang begitu sempurna dimatanya, namun di pertengahan perjalanan hidup Gagah yakni sang kakak mendapatkan hidayah menjadi seorang pemuda yang lebih alim dan soleh. Gita yang awalnya kecewa atas perubahan tersebut pada akhirnya bisa menerima situasi berbeda itu, dan penyesalan semakin menyelimutinya di kala Gagah harus meninggalkannya.

Cerpen berikutnya masih dalam buku yang sama adalah ‘Lelaki Berhati Cahaya’ yang mengisahkan sosok lelaki dengan rupa yang tidak biasa, sehingga selalu dikucilkan oleh lingkungan dan tempat-tempat dimana ia berpijak. Beruntung seorang sahabatnya Tomi selalu bersedia berkawan dengannya. Meskipun dengan fisiknya yang tidak sempurna namun kemuliaan hati lelaki berhati cahaya ini sungguh mulia.

Sejak mengenal buku tersebut saya pun menemukan perasaan sensasi menyenangkan ketika bisa terjun dan merasakan dekat bahkan menjadi tokoh dari setiap bacaan yang dibaca. Awalnya saya memang lebih suka membaca cerpen, bahkan dahulu hobi sekali membuat keliping cerpeng-cerpen dari majalah atau tabloid yang saya beli.

Sampai berikutnya novel-novel karya sastrawan lain pun saya jadi suka membacanya, selalu senang dikala bisa menemuka kata-kata yang menginspirasi dan bisa menjadi motivasi. Semasa sekolahpun lebih suka singgah ke perpustakaan hanya untuk bisa meminjam novel dan buku-buku bacaan.

Sayapun tidak pernah menyangka kesukaan membaca tersebut akhirnya membawa saya memiliki beberapa karya dan gemar menulis blog seperti yang saya geluti terakhir belakangan ini. Sebagaimana Bunda Helvy Tiana Rosa Pernah menuturkan bahwa menulis adalah mengukir keabadian.

 


TAGS novel buku sastra


-

Author

Follow Me