Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti Sejak Dini

1 Sep 2016

 

Beberapa pekan lalu hangat diperbicangkan tentang sosok remaja kekinian yang luntur etika dan tata kramanya terlebih hal itu viral berkembang di jagat maya dimana semua kalangan dapat melihat tingkah pola keliru dan negatif pada dirinya.

Baru-baru ini santer terdengar bahwa dia telah mencoreng lagu kebangsaan yang di pelesetkan dengan bahasa kasar, hal itu semakin membuat ‘gemas’ untuk tidak menuliskan tentangnya. Dan jujur saja saya terkejut lantaran di masa sekolahnya dulu dia peraih nilai matematika terbaik di daerahnya, ya…saya rasa semua sudah tahu sosok siapa yang sedang saya bahas.

Masyrakat luas tentu bertanya-tanya, perihal apa yang menjadikan kepribadian remaja tersebut bak “jetcoster” berubah drastis sedemikian rupa. Saya rasa itu hanya contoh kecil saja, sedangkan di lur sana pasti masih lebih banyak remaja sepertinya.

Disinilah harus semakin merenung, bahwa nilai ketimuran bangsa yang kian lama kian memudar. Etika dan budi pekerti tak lagi di junjung tinggi, lalu siapa yang disalahkan dalam hal ini ? Semestinya ini menjadi tanggung jawab bersama dalam pendidikan baik di sekolah maupun yang paling dasar tentu saja lingkungan keluarga.

Budi pekerti terdiri dari dua unsur kata, yaitu budi dan pekerti. Budi dalam bahasa sangsekerta berarti kesadaran, pikiran dan kecerdasan. Kata pekerti berarti aktualisasi, penampilan, pelaksanaan atau perilaku. Dengan demikian budi pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berprilaku.

Tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap dan prilaku seseorang yang memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur. Hal ini mengandung arti bahwa dalam pendidikan budi pekerti, nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia yang terwujud dalam tingkah lakunya.

Dalam penerapannya, setidaknya ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam menerapkan pendidikan budi pekerti khususnya di sekolah :

1. Mengintegrasikan pendidikan budi pekerti  ke dalam kegiatan sehari-hari atau pelajaran tambahan seperti ekstra kurikuler dimana pada akhirnya anak didik lebih ada tempat untuk beraktifitas didalam kegiatan yang positif.

2. Mengintregasikan pendidikan budi pekerti yang di canangkan dalam setiap mata pelajaran khususnya pendidikan agama, bahasa dan kewarganegaraan.

3. Menjalin komunikasi serta kerja sama yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua atau wali dari anak didik.

Kontrol dan pengawasan pihak keluarga yang kurang sering membuat kepribadian seorang anak kadang menjadi ekstrim lantaran ingin mencari perhatian dengan cara yang salah. Dengan dasar pendidikan budi pekerti yang kuat, maka masyarakat memiliki modal yang cukup dalam berinteraksi sosial sehingga berbagai perilaku negatif yang kini marak di masyarakat, bisa di minimalisir

Negeri ini harus memperkuat jati diri dan karakter kebangsaannya dengan menerapkan kembali pendidikan budi pekerti. Agar dapat lagi menghargai norma-norma adab kebangsaan serta mengaplikasikan tatakrama kesopanan dalam berkehidupan.


TAGS pendidikan tatakrama kesopanan


-

Author

Follow Me